radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Galian C Ilegal Digerebek, Satu Backhoe Diamankan

29 Juli 2017, 10: 27: 11 WIB | editor : Mochamad Chariris

Satu unit backhoe menghentikan aktivitas pengerukan tambang setelah lokasi galian C di Desa/Kec. Pacet ini digerebek polisi.

Satu unit backhoe menghentikan aktivitas pengerukan tambang setelah lokasi galian C di Desa/Kec. Pacet ini digerebek polisi.

PACET - Aktivitas penambangan galian C (sirtu) diduga ilegal di Dusun Pacet Utara, Desa/Kecamatan Pacet, digerebek Satreskrim Polres Mojokerto, Jumat (28/7). Petugas menemukan pekerja sedang beroperasi melakukan aktivitas pengerukan sumber daya alam (SDA) menggunakan alat berat. Dari lokasi, turut diamankan satu unit backhoe, satu unit dump truck beserta sopir dan operator backhoe.  

Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Budi Santoso mengungkapkan, aktivitas penambangan galian C ini diduga tidak mengantongi izin pertambangan. Pratik liar penambangan milik DD, warga Magersari, Kota Mojokerto tersebut sudah berlangsung lama. Hal itu terlihat dari luasnya tanah yang sudah dikeruk. ’’Praktik ilegal ini sudah satu bulan lebih, tanahnya dikomersilkan sebagai tanah uruk,’’ katanya.

Pertambangan ilegal ini terungkap setelah polisi menerima laporan dari warga. Belakangan banyak kendaraan dump truck keluar masuk ke lokasi penambangan. Hingga akhirnya, Kamis (27/7) sekitar pukul 10.30 petugas memutuskan melakukan penyelidikan. Usai melihat lokasi, diyakini aktivitas tersebut memang tidak mengantongi izin. ’’Saat sejumlah pekerja di lokasi kami minta menunjukkan surat izin ternyata tidak bisa,’’ katanya.

Atas dasar itu, satreskrim menutup dan menyita barang bukti. Di antaranya satu unit backhoe dan dump truck bernopol S 9631 UR. Empat pekerja turut diamankan. Masing-masing HR, 37, warga Desa/Kecamatan Mojowarno, Jombang; dan MT, 55, operator backhoe asal Desa Semberkembar, Kecamatan Pacet. Sedangkan, dua orang lainnya berinisial KW, 22, dan MD, 60 berperan sebagai cheker. ’’Empat orang ini kami amankan untuk dimintai keterangan sebagai saksi,’’ tuturnya.

Uang tuani Rp 150 ribu hasil penjualan sirtu dan dua buku catatan disita sebagai barang bukti. ’’Saat ini, seluruh barang bukti dan saksi sudah diamankan ke polres untuk proses penyelidikan,’’ tandasnya. Budi menambahkan, kuat dugaan galian C liar tersebut melanggar UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). Sanksi menyalahi pasal 158, dapat diancam tahanan maksimal 10 tahun dan denda Rp 10 miliar. ’’Tapi, sejauh ini masih kita dalami,’’ pungkasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia