Rabu, 14 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader
Oleh YANUAR YAHYA

Yang Terlarang

Jumat, 28 Jul 2017 14:10 | editor : Mochamad Chariris

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto (Radar Mojokerto)

INGATAN saya tentang ’’ketakutan’’ pada waktu kecil adalah organisasi terlarang yakni Partai Komunis Indonesia (PKI). Cerita-cerita tentang PKI adalah kekejaman, membunuhi orang santri dan tak segan-segan meneror orang-orang yang dianggap tak sepaham. Saya memang tak mengetahui secara langsung bagaimana perilaku PKI semasa berkuasa. Cerita itu lebih banyak saya dapat dari film dan buku-buku yang konon orderan pemerintah orde baru (orba).

Ketika saya sekolah, cerita itu sudah seperti doktrin bahwa PKI adalah momok menakutkan bagi anak kecil. Organisasi terlarang! Jika ada tetangga desa atau sekampung yang tersangkut PKI, maka menjadi bisik-bisik alias rasan-rasan bahwa orang itu tak layak diberi ruang. Karena, konon, organ PKI dan keturunannya tercatat sampai tujuh turunan bakal di-blacklist. Karena organisasi ini berbahaya.

Ingatan itu telanjur membekas dalam benak saya bahwa PKI dan segala hal yang berbau komunis tak layak hidup di Indonesia. Pantas saja bahasa-bahasa ala PKI seperti seram dan seru banget. Sebut saja: ganyang, sabotase, muslihat, revolusioner, antek-antek dan sejenisnya. PKI dalam konteks dulu memang layak tak diberi tempat.

Di zaman sekarang pun, anggapan orang tentang PKI masih saja sama. Yakni  kejam dan tak berperikemanusiaan. Apalagi pada zaman dulu, pendidikan masyarakat belumlah cukup untuk mengikuti arus politik yang ’’bermazhab’’ komunis. Jadi mereka yang masuk menjadi organ PKI menerjemahkan pola politik PKI dengan serampangan dan sembarangan.

Lalu akhir-akhir ini mulai marak lagi kaus-kaus merah berlambang Palu-Arit kuning yang dipakai anak-anak muda. Memang saya sendiri belum mendapat kaus tersebut, namun beberapa teman telah mengirimi saya foto-foto kaus merah bergambar Palu-Arit itu. Sehingga bisa diperkirakan bahwa gambar-gambar Palu-Arit itu sudah beredar luas, menjadi viral di dunia media sosial. 

Beberapa pengamat dan pakar ilmu sosial-politik, umumnya yang lahir pasca-tahun 1965, menyatakan bahwa beredarnya gambar Palu-Arit di media sosial tidak akan berefek apa-apa, karena komunisme sudah mati. Anak keturunan dari kedua pihak (termasuk anak-anak jenderal Pahlawan Revolusi dan anak-anak tokoh-tokoh PKI yang jadi korban peristiwa G-30-S) pun sudah ber-islah. Katanya demikian.  

Walaupun begitu tidak berarti bahwa kaus berlogo Palu-Arit tidak punya makna apa-apa buat sebagian orang ini menebar ketakutan. Buat orang-orang yang lahir sebelum tahun 1965, peristiwa G-30-S/PKI masih memberikan trauma yang mendalam.

Kemudian ketakutan lainnya adalah di tahun-tahun 1983-an. Ketika pemerintah orde baru menggelar operasi pembasmian preman yang kerap disebut ’’Petrus’’ atau Penembakan Misterius. Sudah biasa, jika di sungai-sungai desa bertebaran mayat-mayat yang hanyut dalam hitungan hari. Mayat telanjang dengan luka tembak sudah biasa ditemukan warga atau pemancing ikan. Atau suara ’’dor..dor..” suara pistol menyalak, pernah terdengar di desa saat sekelompok pasukan dengan seragam preman menggerebek preman kampung. Konon, karena aksi Petrus ini, ribuan orang yang dituduh preman mati tanpa proses peradilan.

Pada zaman Orba memang segala hal yang berbau menantang pemerintah bakal disikat. Tentara tak sekadar alat negara namun sudah menjadi simbol pemerintah sepenuhnya. Blocking politics diterapkan pemerintah pada saat itu untuk ’’menindas’’ dan menekan perlawanan nyatanya cukup efektif menciptakan ketakutan masyarakat. Bahkan anak-anak kecil pun ikut ketakutan. Dengan dalih Pancasila, kerapkali pemerintah melakukan hal-hal yang tak pancasialis saat itu. Pancasila adalah azaz tunggal.

Di zaman sekarang kembali Pancasila ’’dipakai’’ untuk menjerat masyarakat. Awalnya dibumikan Saya Pancasila, Saya Indonesia. Setelah itu pelan namun pasti mulai dengan aksi-aksi lain seperti menerbitkan Perppu tentang Ormas yang berimbas pada pelarangan sejumlah organisasi masyarakat seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan sejenisnya.

Ancaman yang ditebar adalah radikalisme agama, seperti ISIS misalnya. Karena itu, jangan dibayangkan akan ada anak-anak muda zaman sekarang yang berani mejeng di mal dengan kaus hitam-hitam berlogo ISIS. Tapi anehnya mereka malah bangga pakai seragam Palu-Arit. Seperti buat gagah-gagahan atau untuk kekinian.

Benarkah anak-anak muda sekarang sudah melupakan PKI dan menganggapnya biasa saja? Sementara dengan radikalisme agama yang insinuasinya ditebar kaum HTI dan organisasi sejenisnya dianggap menebar ketakutan baru. Belum ada jawabannya kecuali waktu terus berjalan dan kehidupan bernegara terus berlanjut.

Yang jelas sekarang dengan pelarangan HTI otamatis organ-organ atau orang yang berada di dalamnya harus bersedia untuk melepaskan baju. Bahkan bagi PNS, mereka diberi pilihan tetap menjadi PNS atau mengikuti HTI. Pemeritah daerah seperti Pemkab Mojokerto maupun Pemkot Mojokerto sudah menelisik setiap PNS-nya yang kemungkinan terlibat HTI dengan ancaman pecat.

Ini memang bentuk ketakutan baru bagi masyarakat dengan dalih Pancasila juga. Entah sampai kapan dipakai senjata untuk menakut-nakuti masyarakat dan senjata politik rezim tertentu. Padahal Pancasila tidaklah ’’sekerdil’’ partai politik atau kepentingan tertentu. Pancasila bukalah rumus kode buntut, dan Garuda bukanlah burung perkutut, begitu Iwan Fals berkata.

Semoga saja dengan membubarkan ormas terlarang pemerintah tidak sedang menciptakan ketakutan baru, melainkan kenyamanan yang layak bagi rakyatnya. Atau mungkin ini bentuk ketakutan pemerintah sendiri pada HTI? (*)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia