Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Ingin Tahu Pasar Kliwon Zaman Dulu? Ini Fotonya

Rabu, 19 Jul 2017 14:00 | editor : Mochamad Chariris

Pasar Kliwon di tahun 1880-an ini sudah menjadi pusat perdagangan dan dalam kekuasaan pemerintahan Kota Mojokerto.

Pasar Kliwon di tahun 1880-an ini sudah menjadi pusat perdagangan dan dalam kekuasaan pemerintahan Kota Mojokerto. (Tropenmuseum, Belanda for Radar Mojokerto)

PASAR  tradisional di Mojokerto pernah mengalami kejayaan. Namun, di era Belanda, pasar tak terlihat ramai tiap hari. Lima hari pasaran Jawa menjadi siklus perniagaan di kota mungil ini.

Hampir setiap kota, di tanah Jawa, memiliki sejumlah pasar tradisional dengan label Pasar Kliwon, Pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Pahing, dan Pasar Legi. Pemberian nama-nama itu sebagai salah satu pertanda tingkat keramaian di pasar tersebut. ’’Jadi, kalau ke Pasar Legi, hanya ramai saat pasaran Legi. Bukan ketika Pahing atau Wage,’’ cerita sejarawan muda, Ayyuhan Nafiq.

Pria yang tinggal di Sidowangun, Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi ini, mencontohkan sederet pasar di Kota Mojokerto. Di kota ini, terdapat lima pasar yang pernah menjadi pusat perbelanjaan di era kolonial Belanda. Yakni, Pasar Kliwon di Jalan Majapahit, Pasar Pahing atau yang dikenal dengan Pasar Pelabuhan di Jalan Letkol Sumarjo, Pasar Cakarayam, Pasar Kranggan, dan pasar di kawasan Empunala. ’’Pasar Pelabuhan ini yang paling tua,’’ tandasnya.

Ramainya pasar saat itu, berbeda dengan kondisi pasar saat ini. Kata Yuhan, hanya secuil pedagang yang intens menjajakan dagangannya di satu lokasi saja. Banyak pedagang banyak yang berpindah-pindah dari satu pasar ke pasar yang lain. Karena, desain pasar saat itu sangat berbeda dengan kondisi pasar di era modern. ’’Waktu itu hanya berupa tanah lapang dan banyak pepohonan. Begitu saja. Pedagang berjualan di bawah pohon,’’ ceritanya.

Pedagang yang selalu berpindah-pindah dan mengikuti ramainya pasar, diantaranya pedagang obat-obatan, garmen dan kelontong. Mereka membungkus barang dagangannya dengan menggunakan kain besar. Dengan begitu, pedagang lebih mudah menggelar dan membungkus dagangannya ketika pasar sudah mulai sepi. ’’Sehingga, waktu itu akhirnya muncul simbol pedagang bangkelan. Karena, mereka membungkus dengan taplak,’’ tutur Yuhan.

Patokan pasaran Jawa yang menjadi jadwal perdagangan, kerap membuat pembeli kerepotan. Karena, ketika barang yang sudah dibeli tak cocok, pembeli baru bisa bertemu dan menukarkannya lima hari kemudian. Kondisi pasar ini bertahan hingga Mojokerto dinobatkan sebagai Kota Mojokerto oleh pemerintahan Belanda di tahun 1838. Bahkan, pasar tradisional kian ramai setelah Belanda menata sepanjang kawasan Majapahit menjadi kompleks China.

Sejak itulah, pasar yang semula hanya berbentuk lapangan dengan dukungan atap pepohonan, pelan-pelan mengalami perubahan. Mulai ada los dan atap. ’’Orang-orang China itulah yang mengawali model pertokoan modern,’’ pungkas Yuhan. Keberadaan pasar-pasar tradisional, tak hanya terjadi terjadi di kota Mojokerto saja. Namun, di wilayah Kabupaten Mojokerto, juga mengalami hal serupa. Seperti yang sampai saat ini bertahan, yakni pasar Legi Mojosari. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia