Parkir Berlangganan Muspro, Pengendara Masih Saja Dipungli Jukir

MOJOSARI - Keseriusan pemerintah menata sistem parkir berlangganan masih jadi perbincangan publik. Pasalnya, meski pemerintah menyatakan parkir berlangganan gratis dan tidak akan dipungut biaya, namun praktik di lapangan berbeda.

Tak sedikit juru parkir (jukir) meminta dan menerima uang parkir dari pemilik kendaraan. Tak urung, dengan kondisi itu sebagian warga berharap parkir berlangganan baiknya dihapus, lantaran telah merugikan masyarakat. Selain, sudah dibebani bayar parkir berlangganan setiap tahunnya, mereka tetap dikenakan retribusi parkir.

Abdillah, 28, warga asal Mojosari, Kabupaten Mojokerto mengatakan, parkir berlangganan yang ditetapkan Pemkab Mojokerto memang tidak berjalan maksimal. ’’Kami rasa parkir berlangganan tidak berlaku di Mojokerto,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto Rabu (26/10).

Fakta di lapangan, tak jarang jukir menerima dan meminta retribusi parkir sesaat pengendara hendak meninggalkan lokasi parkir. ’’Memang faktanya seperti itu. Kita yang di lapangan tahu persis, karena sering menjadi korban juga,’’ tambahnya.

Artinya, kata Abdillah, meski masyarakat sudah membayar parkir berlangganan saat perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNKB) di Kantor Bersama Samsat Rp 15 ribu setiap tahunnya (roda dua), tidak membuat masyarakat bebas dari parkir.

’’Tidak pasti, kadang Rp 1.000, kadang juga diberi Rp 2.000. Tapi tidak dikasih kembalian,’’ sesalnya. Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah tegas dan tidak tutup mata terkait retribusi parkir berlangganan ini, khususnya di area Mojosari.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar