Guru Ngaji Melawan, Sebut Salah Tangkap, Laporkan Kapolsek ke Komnas HAM

JETIS – Penangkapan terhadap Muhammad Harun Saputra, 24, warga Kaliasin, Desa Bendung, Kecamatan Jetis, yang dilakukan aparat kepolisian jelang Lebaran lalu, berbuntut panjang. Kini, pemuda yang kesehariannya mengajar ngaji di kampungnya tersebut melawan dengan melaporkan polisi ke sejumlah lembaga resmi negara.

Diantara pelaporan itu ditujukan ke Presiden RI, Wapres, Komnas HAM, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas),  Kapolri, hingga Irwasum, ombudsman, serta sejumlah media lokal dan nasional.

Keluarga korban yang ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto menceritakan, polisi telah melakukan salah tangkap atas penangkapan Muhammad Harun Saputra yang terjadi 24 Juni lalu. ’’Saat itu, sedang mendekati Lebaran. Tiba-tiba rumah saya digeledah,’’ kata Siti Surya Ningsih, kakak kandung Harun.

Di sana, perempuan ini mengakui, polisi menemukan mercon yang memang sudah disiapkan untuk  perayaan Lebaran. ’’Tapi, tidak pernah ada niat untuk menjual. Karena memang kebiasaannya hanya untuk senang-senang dan akan dipakai saat Lebaran,’’ imbuh dia.

Sementara itu, kuasa hukum Muhammad Harun Saputra, Shonuddin Umar, SH, mengatakan, laporan yang dilayangkan ke lembaga negara itu karena menilai terjadi salah prosedur yang telah dilakukan kepolisian.

Menurut dia, Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 yang diterapkan kepolisian sama sekali tidak benar. ’’Mercon itu bukan senjata api,’’ ujarnya. Shoinuddin Umar pun menyayangkan sikap kepolisian yang tertutup saat ia hendak melakukan konfirmasi atas penahanan kliennya tersebut.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar